Tuberkulosis adalah salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini dapat menyerang semua bagian tubuh manusia dan yang paling sering terkena adalah organ paru (90%). Kuman TB dapat hidup lama tanpa aktifitas dalam jaringan hingga sampai saatnya ia aktif kembali. Mycobacterium tuberculosis dijuluki jagoan bersembunyi karena mampu menyembunyikan diri di dalam sel untuk waktu yang sangat lama tanpa terlacak sistem kekebalam tubuh. Inilah yang menyebabkan pemberantasannya secara global amat sulit.
Penyakit paru-paru yang amat ditakuti ternyata terus mewabah diseluruh dunia, setiap tahunnya delapan juta penderita baru, dan WHO memperkirakan, sekitar dua milyar penduduk dunia terinfeksi kuman TB, dan 5-10% menunjukkan gejala sakit sisanya walaupun mengeram dalam tubuh, Mycobakterium tuberculosis tetap tidak menunjukkan gejala sakit. Hal ini terus diteliti para ahli mengapa muncul fenomena seperti ini (Anonim, diakses 17 Januari 2005).
Di negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang. Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat. Kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan serta nifas (WHO). WHO mencanangkan keadaan darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993 karena diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB (RS. Prof. Dr. Sulianti Saroso,2007).
Di Indonesia TB kembali muncul sebagai penyebab kematian utama setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Penyakit TB paru, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua golongan usia dan nomor satu dari golongan infeksi. Antara tahun 1979 sampai 1982 telah dilakukan survey prevalensi di 15 propinsi dengan hasil 200-400 penderita tiap 100.000 penduduk (RS. Prof. Dr. Sulianti Saroso,2007).
Di Indonesia TBC penyebab kematian adalah ke-2 setelah penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya. Dari data Dinas Kesehatan RI menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara ke-3 di dunia yang mempunyai penderita TBC terbanyak setelah Cina dan India. ’ Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih dari 140 ribu lainnya meninggal dunia (Anonim, diakses 30 Mei 2006).
Dilaporkan bahwa insidens penyakit TBC pada masa kini meningkat di negara tertentu berhubungan dengan tingkat infeksi yang tinggi dan terjadinya penurunan daya tahan tubuh akibat kemiskinan atau penyakit AIDS. Di samping itu di akibatkan pula oleh insidens kasus kekebalan kuman TB terhadap obat anti tuberculosis (OAT) secara meluas. Di negara- negara maju Penyakit TBC yang semula sudah di anggap tidak ada, kini mulai timbul dan semarak, oleh karena timbul nya penyakit HIV / AIDS, yang mana kondisi pertahanan tubuh penderita HIV / AIDS sangat lemah, sehingga keadaan ini mempermudah terserang penyakit TB (RS. Prof. Dr. Sulianti Saroso,2007).
Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TB dimana sekitar 1/3 penderita terdapat disekitar puskesmas, 1/3 ditemukan di pelayanan rumah sakit/klinik pemerintah dan swasta, praktek swasta dan sisanya belum terjangkau unit pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian karena TB diperkirakan 175.000 per tahun.
Berdasarkan data Rumah Sakit "Prof DR Sulianti Saroso Jakarta, di Indonesia tiap tahun terdapat 583 ribu kasus dan 140 ribu di antaranya meninggal dunia. Jika dihitung, setiap hari 425 orang meninggal akibat TBC di Indonesia. Kalau 1 orang pasien bisa menularkan ke 10 orang, pada tahun berikutnya jumlah yang tertular adalah 5,8 juta orang. Karena itu, jelaslah bahwa TBC adalah pembunuh massal yang harus diberantas. (RS. Prof. Dr. Sulianti Saroso,2007).
Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif, penderita TB kebanyakan dari kelompok sosio ekonomi rendah. Dari 1995-1998, cakupan penderita TB Paru dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy) atau pengawasan langsung menelan obat jangka pendek/setiap hari, baru mencapai 36% dengan angka kesembuhan 87%. Sebelum strategi DOTS (1969-1994) cakupannya sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang dapat dicapai hanya 40-60%. Karena pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak cukup dimasa lalu kemungkinan telah timbul kekebalan kuman TB terhadap OAT (obat anti tuberkulosis) secara meluas atau multi drug resistance (MDR) (RS. Prof. Dr. Sulianti Saroso,2007).
Deteksi penderita sangat penting karena penderita yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TBC berikutnya. Seseorang yang batuk lebih dari 3 minggu bisa diduga mengidap TBC, yang harus dideteksi dan di konfirmasikan terinfeksi kuman TBC atau tidak. Sampai saat ini, deteksi yang akurat adalah dengan menggunakan mikroskop dan dengan cara mengisolasi kuman. Deteksi dengan sinar-X kurang spesifik, sedangkan diagnosa secara molekuler seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum bisa diterapkan (Depkes RI, 2005).
Faktor- faktor yang menyebabkan sulitnya pemberantasan penyakit TBC, selain pernyataan tersebut diatas, juga faktor kemalasan penderita mengkonsumsi obat anti tuberkulosis secara teratur dan cara-cara untuk mendeteksi kuman TBC juga berpengaruh seperti, metode Ziehl-Neelsen meskipun termudah, tercepat dan termurah tetapi kurang sensitif, karena dibutuhkan 5000-10000 batang kuman / 1ml sputum, untuk mendapatkan kuman BTA positip dibawah mikroskop. Pemeriksaan ini juga tidak spesifik karena sering dikacaukan oleh kuman lain, pemeriksaan BTA positif hanya ditemukan pada kasus.(Bahar A,2001).
Dewasa ini Tb bisa disembuhkan dengan baik. Masalahnya obat Tb ini harus dimakan sedikitnya 6 bulan. Biasanya setelah makan obat dua bulan keluhan pasien akan hilang. Pasien menjadi malas minum obat. Padahal bila berhenti minum obat ditengah jalan maka bukan saja penyakitnya yang tidak sembuh melainkan obat menjadi tidak ampuh lagi (Depkes RI, 2008).
Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat sekitar 4.021 kasus TB paru (BTA Positif) pada tahun 2002. Para penderita ini sebenarnya pernah menerima pengobatan dari puskesmas, rumah sakit, dan pusat pengobatan lain di Jakarta, akan tetapi baru sekitar 71% yang berhasil disembuhkan.
Penelitian ini telah mendeteksi faktor-faktor yang mempunyai hubungan bermakna dengan kesembuhan/ketidak sembuhan orang yang berobat TB paru di poli paru-rumah sakit Persahabatan Jakarta pada bulan Februari sampai dengan Desember tahun 2005.
Faktor-faktor yang mempunyai hubungan bermakna dengan kesembuhan/ketidak sembuhan orang yang sedang berobat TB paru adalah Merokok (OR=7,78%) Penghasilan (OR=7,56%), Pengetahuan tentang TB paru (OR=5,510%), Sikap terhadap proses pengobatan TB paru (OR=6,27%), Perilaku (OR=6,83%), Keadaan rumah dipandang dari segi tata ruang (OR=6,86%), Program OAT gratis dari pemerintah (OR=4,159%), PMO (OR=4,52%), Keadaan gizi (OR=9,59%) (Firdous,2007)
Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Makassar pada tahun 2007 jumlah kunjungan sebanyak 22.044 kunjungan, jumlah pemeriksaan laboratorium sebanyak 32.725 untuk semua jenis pemeriksaan. Kunjungan baru dengan penyakit TB Paru BTA (+) positif pada tahun 2005 sebanyak 571 dan kunjungan lama sebanyak 584 kunjungan, pada tahun 2006 kunjungan kasus baru sebanyak 664 dan kunjungan kasus lama sebanyak 622 kunjungan, sedangkan pada tahun 2007 kunjungan kasus baru sebanyak 448 dan kunjungan kasus lama sebanyak 825 kunjungan (Data BBKPM Makassar, 2007).
Hal ini menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun kunjungan kasus khususnya kasus lama dari tahun ke tahun makin meningkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis apa aja selama tidak menyagkut SARA.Propokasi dan semacamnya. yang jelanya tulis yang baik baik aja deh